Menu

Mode Gelap
 

Advetorial · 6 Oct 2025 02:12 WIB ·

Integritas, Mahkota Guru Besar Oleh: Noorhalis Majid


 Integritas, Mahkota Guru Besar Oleh: Noorhalis Majid Perbesar

SOROT NEWS KALIMANTAN

Guru Besar, pasti bukan sekedar jabatan fungsional akademik tertinggi bagi dosen. Padanya tersirat kepakaran dan pengakuan atas karya ilmiah, peran serta kontribusi maksimal bagi masyarakat luas. Tercermin teladan akademik, bahkan menjadi motivator, penggerak kemajuan ilmu pengetahuan, baik melalui pengajaran, penelitian serta keaktifan dalam penyebaran gagasan melalui tulisan.

Ki Hajar Dewantara, memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Guru Besar, sebagai orang yang harus diteladani, baik menyangkut cara bersikap, berprilaku, atau pun berpikir terhadap lingkungan dan masyarakatnya.

Seorang Guru Besar, haruslah independent dari intervensi apapun, agar pendapat, pikiran dan tindakannya hanya berdasarkan keilmuan dan kepakarannya. Bukan karena tekanan apalagi pesanan. Karena itu, haruslah senantiasa mengembangkan kualifikasi keilmuan, agar sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman, ilmu dan terknologi.

Lantas, apa mahkota Guru Besar? Karena dia menjadi panutan, contoh dan teladan, tentu saja mahkotanya adalah integritas. Bahkan menurut Buya Hamka, bukan saja harus menjadi teladan, juga harus memiliki prinsif yang teguh, tidak mudah goyah oleh apapun.

Bicara tentang integritas kepada Guru Besar, seperti menggarami lautan – “kaya bajual dapur ka Nagara,” dia pasti lebih ahli dan mumpuni dari siapapun. Karenanya, manakala Guru Besar masih bermasalah dalam soal integritas, seperti satu peringatan atau alarm keras, terkait hal sangat mendasar yang sedang terjadi di dunia pendidikan dan masyarakat berbudaya.

Pepatah lama mengingatkan, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Bila Guru besar masih bermasalah dalam soal integritas, bagaimana mungkin sekolah dan kampus dapat menanamkan nilai-nilai kejujuran, etika dan moral kepada segenap murid? Bukankah integritas tidak cukup hanya dengan ceramah dan kata-kata. Diperlukan tauladan, contoh nyata yang dapat dilihat dan ditiru. Filosopi Jawa bahkan telah lama mengajarkan, seorang guru harus digugu dan ditiru. Digugu berarti dipercaya, diyakini kebenarannya dan patut didengarkan, sedangkan ditiru, sikap dan perbuatannya layak dicontoh karena mengandung ketinggian akhlak dan nilai luhur.

Tanpa mahkota integritas, Guru Besar tidak akan bermakna apapun. Bahkan lebih hina dari manusia biasa yang tanpa ilmu. Sebab ternyata ketinggian ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, tidak menjadi pencerah dalam menuntun tindakan, sikap, kata-kata dan perbuatan. Harus diketahui, peradaban berduka, manakala Guru Besar ternyata integritasnya keropos. (Ywn)

Artikel ini telah dibaca 5 kali

Baca Lainnya

Kunjungan Istri Gubernur Warnai Gunung Antasari: Desa Kecil yang Menjadi Pusat Perhatian Besar

10 December 2025 - 23:25 WIB

BAZNAS Tanah Bumbu Targetkan Donasi Rp100 Juta untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatra

8 December 2025 - 23:41 WIB

Inspektorat Tanah Bumbu Punya Nahkoda Baru Edi Prasetia Siap Genjot Pengawasan dan Benahi SOP

8 December 2025 - 22:43 WIB

Damkar Simpang Empat Kenalkan Edukasi Keselamatan Sejak Dini kepada Siswa TK Wonderkids

7 December 2025 - 13:07 WIB

Pemberdayaan Warga Binaan Lapas Batulicin Melalui Pelatihan Jamur Tiram, Budidaya Ikan, dan Bebek Petelur

7 December 2025 - 00:13 WIB

Kolaborasi Sukses! Bupati Tanah Bumbu Dianugerahi Penghargaan KSAD atas Dukungan TMMD, Dandim 1022 Raih Juara Nasional

6 December 2025 - 23:18 WIB

Trending di Advetorial