TANAH BUMBU,Sorottipikor.com//
– Di tepian dermaga Sungai Cuka, aroma asin laut berpadu dengan semilir angin pagi. Terlihat dua nelayan sibuk menyiapkan tumpukan daun kelapa dan mengomel kering di atas perahu kayu sederhana. Di antara mereka, seorang lelaki tua tampak telaten mengikat pelepah dengan tali nilon agar tak tercerai saat dibawa ke tengah laut.
“Ini nanti kami turunkan di tengah,” ujar Basuki, nelayan yang sudah lebih dari 30 tahun mengarungi lautan. “Kalau sudah di dasar laut, ikan bakal datang sendiri. Tempatnya jadi ramai.”
Yang disiapkan Basuki dan rekannya itu disebut rumpun laut — sebuah tradisi turun-temurun nelayan Sungai Cuka untuk menarik ikan berkumpul dengan cara alami. Rumpun dibuat dari bahan organik seperti daun kelapa dan pohon mengomel, lalu ditenggelamkan ke dasar laut dengan jangkar batu atau besi.
“Kalau bahan alami ini membusuk, jadi sarang plankton. Nah, ikan-ikan kecil datang, lalu disusul ikan besar. Semua alami, tanpa merusak laut,” terang Basuki sambil tersenyum.
Namun di balik kearifan lokal itu, para nelayan kini menghadapi tantangan baru. Rumpun laut yang mereka buat sering rusak atau hilang akibat terseret jaring kapal besar dari luar daerah.
“Sudah dijangkar kuat-kuat, masih juga hilang,” keluh Basuki. “Kadang baru seminggu ditaruh, sudah raib. Padahal ini modal kami untuk hidup.”
Di kawasan Sungai Cuka, sekitar 60 kapal nelayan kecil masih bertahan dengan cara tradisional. Mereka memancing di sekitar rumpun, tanpa alat tangkap berat dan tetap menjaga kebersihan laut.
“Ikan yang sering kami dapat itu kakap merah,” tutur Lashby, nelayan muda yang membantu Basuki mengikat pelepah. “Kami tidak mau memakai pukat atau bom. Cukup pancing saja, yang penting laut tetap bersih dan ikan tidak punah.”
Bagi para nelayan Sungai Cuka, laut bukan sekadar tempat mencari rezeki, tetapi juga warisan yang harus dijaga. Tradisi rumpun laut menjadi simbol keseimbangan antara manusia dan alam—sebuah bukti bahwa kearifan lokal masih mampu memberikan pelajaran tentang kerinduan di tengah arus modernisasi.
(Tim)











