Tanah Bumbu,Sorot News Kalimantan//
– Komitmen nyata membangun ekonomi kerakyatan kembali ditegaskan oleh Andi Rudi Latif. Di tengah semarak pembukaan Pasar Wadai Ramadan bertajuk Aksi Bejual Wadai, Senin (23/2/2026), Bupati Tanah Bumbu itu mengumumkan program permodalan tanpa bunga bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dengan bunga sepenuhnya ditanggung Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu.
Kebijakan tersebut menjadi angin segar bagi para pelaku usaha kecil yang selama ini kerap terbebani bunga pinjaman. Di hadapan ratusan masyarakat dan pedagang yang memadati kawasan halaman Masjid Agung Al Falah, Bupati menegaskan bahwa pemerintah hadir bukan sekadar memberi wacana, tetapi solusi konkret.
“Bunganya nanti Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu yang membayarkan,” tegasnya, disambut antusias para pelaku UMKM.
Program ini dirancang melalui kerja sama strategis dengan Bank Kalsel sebagai mitra penyalur pembiayaan. Skema tersebut diharapkan membuka akses modal yang sehat, aman, dan terjangkau, sekaligus menjadi tameng bagi masyarakat dari jeratan pinjaman online ilegal maupun berbunga tinggi.
Bupati menilai, praktik pinjam-meminjam bukanlah persoalan selama dilakukan secara adil dan tidak memberatkan. Menurutnya, yang kerap menjadi masalah adalah tingginya bunga yang membebani rakyat kecil.
Lebih jauh, ia menyebut kebijakan ini selaras dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar pemerintah daerah mengambil langkah aktif melindungi masyarakat dari praktik pinjaman yang merugikan.
Langkah progresif tersebut mempertegas posisi Pemkab Tanah Bumbu sebagai pemerintah daerah yang responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat, khususnya sektor UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Pada kesempatan yang sama, Bupati secara resmi membuka Aksi Bejual Wadai yang digelar di halaman depan Masjid Agung Al Falah Tanah Bumbu. Kegiatan ini bukan sekadar pasar Ramadan, tetapi ruang pertemuan antara nilai budaya, spiritualitas, dan geliat ekonomi lokal.
Pasar Wadai merupakan tradisi khas Ramadan yang telah mengakar kuat di Kalimantan Selatan, termasuk di Kabupaten Tanah Bumbu. Di mata Bupati, tradisi ini adalah identitas budaya yang harus dijaga sekaligus dimaksimalkan sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
“Pasar Wadai Ramadan adalah tradisi unik dan bersejarah. Ia lahir dari nilai kebersamaan, kearifan lokal, dan semangat berbagi yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Beragam wadai atau kue tradisional khas Ramadan tersaji dengan warna dan cita rasa yang menggugah selera. Namun lebih dari itu, setiap sajian mengandung nilai sejarah dan warisan budaya lintas generasi.
Melalui Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata, Pemkab Tanah Bumbu terus menunjukkan komitmen dalam menjaga tradisi ini agar tetap lestari sekaligus produktif secara ekonomi. Aksi Bejual Wadai menjadi panggung bagi UMKM lokal untuk memperkenalkan produk unggulan mereka, memperluas pasar, dan meningkatkan pendapatan selama Ramadan.
Di bawah kepemimpinan Andi Rudi Latif, sinergi antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi rakyat tampak berjalan beriringan. Program modal usaha tanpa bunga dan penguatan sektor UMKM melalui event budaya menjadi strategi terpadu dalam membangun ekonomi daerah yang inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat kecil.
Ramadan tahun ini pun menjadi momentum penting, bukan hanya untuk memperkuat spiritualitas, tetapi juga meneguhkan komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi rakyat Tanah Bumbu.
(Ywn)











