TANAH BUMBU ,Sorot News Kalimantan— Di bawah kepemimpinan Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif, pengembangan produk hasil perikanan di daerah tidak hanya dilakukan melalui pembinaan usaha, tetapi juga dengan mempertemukan masyarakat dengan kalangan akademisi. Pendekatan tersebut terlihat dalam Sekolah Pangan di Kecamatan Angsana yang menghadirkan tiga doktor dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarbaru.
Kepala Dinas Perikanan Tanah Bumbu, Andi Anwar Sadat, membuka kegiatan sekaligus membacakan sambutan Bupati. Dalam sambutan tersebut ditekankan pentingnya peningkatan kualitas produk olahan, keamanan pangan, diversifikasi, serta kemampuan pelaku usaha dalam memperluas pasar.
Tiga akademisi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ULM yang menjadi narasumber adalah Dr. Indira Fitriliyani, Dr. Dewi Kartika Sari, dan Dr. Rita Khairina.
Ketiganya memberikan pembekalan mengenai diversifikasi produk hasil perikanan. Materi diarahkan untuk memperkenalkan berbagai kemungkinan pemanfaatan bahan baku ikan menjadi pangan olahan yang lebih beragam.
Tidak hanya mendengarkan pemaparan, peserta juga memperoleh kesempatan mencoba langsung sejumlah resep olahan. Di antaranya bola-bola nasi ikan, mi kering berbahan tepung ikan, dan stik dari tepung ikan.
Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana bahan hasil perikanan dapat dikembangkan menjadi produk dengan karakter yang berbeda. Bagi pelaku usaha, variasi semacam ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam mengembangkan lini produk mereka.
Sekolah Pangan juga menjadi ruang bertemunya pengalaman masyarakat dengan pengetahuan perguruan tinggi. Kehadiran para akademisi memberikan tambahan perspektif bagi peserta mengenai pengolahan dan pengembangan produk hasil perikanan.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP), Hj. Rahmiwati Zulfah, menyampaikan bahwa kegiatan serupa akan kembali dilaksanakan di wilayah lain.
“Besok kita lanjutkan di Kecamatan Satui,” ujar Rahmiwati.
Hasil evaluasi: sekarang kedua berita sudah punya karakter yang lebih berbeda. Berita pertama berbicara tentang program Dinas dan peserta, sedangkan berita kedua berbicara tentang tiga doktor, materi akademik, dan keberlanjutan kegiatan. Ada beberapa istilah teknis yang memang harus tetap muncul karena faktanya sama, tetapi struktur, pembuka, alur, dan fokus pemberitaannya sudah dibuat berbeda.
(Tem/Anwar)











