Barito Selatan, Kalimantan Tengah*,Sorot News Kalimantan//
— Kondisi jalan poros dari Kilometer 55 menuju Malungai Raya hingga Muara Malungai, Desa Bintang Ara, Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, menjadi perhatian masyarakat. Warga menilai perbaikan jalan tidak cukup hanya dilakukan melalui penanganan sementara, tetapi perlu dikawal agar ke depan mendapatkan peningkatan secara permanen.
Berdasarkan kondisi di lapangan, sejumlah bagian jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan dan terdapat banyak lubang kini telah dilakukan penimbunan menggunakan material tanah lempung atau tanah Minang. Penanganan tersebut membuat akses jalan untuk sementara masih dapat dilalui, terlebih pada kondisi musim kemarau.
Sebelumnya, masyarakat menyebut terdapat belasan titik kerusakan dan lubang di sepanjang ruas tersebut. Namun, kondisi jalan saat ini dinilai sudah lebih fungsional setelah dilakukan penimbunan.
Meski demikian, masyarakat mengingatkan agar perbaikan sementara tersebut tidak dianggap sebagai penyelesaian akhir. Tantangan yang sebenarnya dikhawatirkan muncul ketika musim hujan tiba. Timbunan tanah berpotensi kembali mengalami kerusakan apabila tidak dilanjutkan dengan pembangunan badan jalan dan peningkatan konstruksi yang lebih permanen.
Ahmad Riyadi menegaskan bahwa persoalan infrastruktur harus dilihat secara objektif berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Menurutnya, kontrol sosial dari masyarakat tetap diperlukan agar pembangunan jalan dapat berjalan transparan dan berkelanjutan.
“Yang terpenting bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana kondisi jalan ini benar-benar ditangani sampai tuntas. Penimbunan memang membantu untuk sementara, tetapi masyarakat tetap membutuhkan jalan yang kuat dan layak dalam jangka panjang,” ujarnya.
Menurutnya, ruas jalan tersebut memiliki nilai strategis karena tidak hanya menjadi akses mobilitas masyarakat, tetapi juga berpotensi mendukung pengembangan sektor pariwisata di kawasan Sungai Ayuh.
Kawasan tersebut memiliki berbagai potensi wisata dan kearifan lokal masyarakat Dayak Lawangan yang menarik untuk dikembangkan. Salah satunya aktivitas tradisional masyarakat dalam mencari ikan menggunakan sundak atau serapang di lubuk-lubuk Sungai Ayuh.
Selain itu, terdapat pula berbagai kekayaan alam dan tradisi masyarakat setempat yang dinilai memiliki daya tarik wisata. Tradisi tuba adat yang dilaksanakan pada musim kemarau, misalnya, berpotensi menjadi daya tarik bagi wisatawan maupun fotografer yang ingin melihat secara langsung budaya dan kehidupan masyarakat lokal.
Potensi lainnya berada di kawasan Tulungan Amis yang disebut memiliki gua-gua alami dengan karakteristik unik dan dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis alam dan susur sungai.
“Kalau potensi wisata ini dikelola dengan baik dan akses jalannya mendukung, bukan tidak mungkin kawasan Sungai Ayuh ke depan berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan. Karena itu, pembangunan infrastruktur harus memiliki visi jangka panjang,” kata Ahmad.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian serius terhadap peningkatan ruas jalan tersebut, termasuk mempertimbangkan pembangunan yang lebih permanen dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Masyarakat juga diharapkan tetap ikut mengawal pembangunan secara kritis namun konstruktif. Dengan demikian, setiap penanganan jalan dapat dilakukan secara transparan, tepat sasaran, dan benar-benar memberikan manfaat bagi warga.
Narasumber: Ahmad Riyadi
Penulis/Tim Redaksi: Usupriyadi & Tim











