SIDRAP ,Sorot News Kalimantan
– Setiap kali hujan deras mengguyur, warga Jalan Karyawan, Kelurahan Majjelling, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap, hanya bisa pasrah. Rumah-rumah mereka kembali tergenang air. Lantai yang semula bersih kini dipenuhi lumpur, bahkan ranjang tempat orang tua mereka beristirahat pun ikut terendam.
“Air masuk sampai ke bawah ranjang. Orang tua saya yang sedang sakit terpaksa tidur di tempat yang lembap. Kami tidak tahu lagi harus bagaimana,” ujar Husni, warga setempat dengan nada haru, Kamis (23/10/2025).

Ia menceritakan, air dari kawasan permukiman dan perkantoran sekitar—mulai dari Kantor BNI, Kantor Pos, hingga Kantor Camat—mengalir menuju Jalan Karyawan. Sayangnya, air tidak bisa keluar karena terhambat di jembatan deuker beton di Jalan Ganggawa yang terlalu sempit.
“Deukernya kecil sekali, hanya sekitar satu meter. Padahal air dari area ribuan meter persegi harus lewat situ. Akhirnya, semua kembali ke rumah kami,” keluhnya.
Masalah ini sudah berlangsung lama. Warga merasa pembangunan jalan beton di sekitar lokasi justru memperparah keadaan. Tidak ada saluran pembuangan air yang memadai, bahkan badan jalan seakan menjadi tanggul yang menahan aliran air.
“Setiap kali hujan deras, kami hanya bisa menunggu air masuk. Kasihan anak-anak, kasihan orang tua. Kami cuma ingin bisa tidur nyenyak tanpa takut banjir,” tutur seorang ibu rumah tangga sambil mengelap lantai rumahnya yang masih basah.
Kini, masyarakat berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas PUPR Sidrap, segera turun tangan. Mereka meminta agar sistem drainase ditinjau ulang dan kapasitas deuker diperbesar agar air bisa mengalir dengan lancar ke arah persawahan, bukan ke rumah warga.
Musim hujan belum mencapai puncaknya, dan kekhawatiran warga makin besar. Bagi mereka, genangan air bukan sekadar masalah teknis—tapi sudah menjadi beban batin yang menenggelamkan kenyamanan di rumah sendiri.
(Tim)











